Thursday, August 2, 2012

Trauma, Etnis Rohingya Tak Ingin Kembali ke Myanmar

Rusuh di Rakhine akibat perseteruan etnis Rohingnya-Rakhine (Foto: Reuters)
Rusuh di Rakhine akibat perseteruan etnis Rohingnya-Rakhine (Foto: Reuters)

MEDAN – Kerusuhan antaretnis yang terjadi di negara bagian Rakhine, Myamnar, rupanya menyisakan trauma mendalam bagi etnis Rohingya yang mengungsi ke tanah air.

M Yamin, salah satu pengungsi yang kini tinggal di Rudenim Belawan di Medan, Sumatera Utara, mengaku tidak ingin kembali ke negaranya. Kondisi keselamatan warga Rohingya di Myanmar, menurutnya, tidak terjamin.

Apalagi negara itu secara terang-terangan tidak menganggap etnis yang sebagian besar menganut agama Islam tersebut, sebagai bagian dari warganya. “Di sana kami sulit hidup. Muslim di sana susah hidup layak dan diperlakukan tidak baik,” kata Yamin yang bisa berbahasa melayu itu, Kamis (2/8/2012).

Dia melanjutkan, warga Etnis Rohingya, selalu diperlakukan tidak baik dan tidak diizinkan menetap di negara junta militer tersebut. Padi hasil panen diambil, dan apabila melihat nyala listrik, petugas Kepolisian akan mendatangi rumah mereka.
Ironisnya, jika kedapatan sedang beribadah salat atau berpuasa, mereka lalu dipukuli dan jika tidak mengikuti peraturan akan dipenjarakan selama 30 tahun.

“Bila tidak mau mengikuti peraturan kami akan dipenjarakan sampai 30 tahun,” akunya lirih. Seperti diberitakan sebelumnya, kerusuhan antaretnis Rohingya dan Rakhine yang sebagian besar dianut agama Budha, pecah karena dipicu pemerkosaan terhadap perempuan suku Rakhine yang diduga dilakukan oleh pemuda Rohingya.

Serangan balasan dilakukan dengan menyerang sebuah bus yang ditumpangi warga Rohingya. Akibatnya 10 dari mereka tewas. Kerusuhan terus meluas di wilayah barat Myanmar itu. Rumah penduduk Rohingya dibakar yang mengakibatkan ratusan orang tewas. Sementara ribuan orang mengunsi ke wilayah perbatasan Myamnar – Bangladash atau mencari suaka ke negara lain.

Namun, tuduhan pemerkosaan itu dibantah oleh Noor Hussein, perwakilan Etnis Rohingya yang tinggal di Bangladesh. Menurutnya Kepolisian dan pasukan militer ikut serta menembaki warga Rohingya dengan peluru tajam saat kerusuhan terjadi. Bahkan, perempuan-perempuan Rohingya diperkosa oleh mereka.

Menurut PBB, Rohingya merupakan etnis minoritas yang mayoritas beragama Muslim yang paling menderita di dunia. Mereka tidak diizinkan bersekolah dan tidak mendapatkan hak tanah di negara itu, karena dianggap sebagai pengungsi ilegal dari Banglades. Padahal suku ini sudah lama tinggal di wilayah itu.

Presiden Myamnar, Thein Sein yang mendapat tekanan dari internasional menganai kerusuhan di negaranya, memberikan dua opsi, yakni mendeportasi warga Rohingya ke negara ketiga yang bersedia menerima dan membiarkan mereka tinggal di tenda-tenda pengungsian.
(Rusli HR/Sindo TV/ris)

Trauma, Etnis Rohingya Tak Ingin Kembali ke Myanmar Gallery

Trauma, Etnis Rohingya Tak Ingin Kembali ke Myanmar Trauma, Etnis Rohingya Tak Ingin Kembali ke Myanmar Trauma, Etnis Rohingya Tak Ingin Kembali ke Myanmar Trauma, Etnis Rohingya Tak Ingin Kembali ke Myanmar Trauma, Etnis Rohingya Tak Ingin Kembali ke Myanmar Trauma, Etnis Rohingya Tak Ingin Kembali ke Myanmar Trauma, Etnis Rohingya Tak Ingin Kembali ke Myanmar

0 comments:

Post a Comment