Thursday, June 21, 2012

Ada 682 Titik Rawan Lonsor di Aceh

Salah satu titik rawan longsor di Aceh (Foto: Tim peneliti Aceh)
Salah satu titik rawan longsor di Aceh (Foto: Tim peneliti Aceh)

BANDA ACEH - Tim peneliti mendeteksi 682 titik rawan longsor di sepanjang jalan-jalan dalam Provinsi Aceh. Pemerintah diminta segera mengantisipasi bencana longsor untuk menghindari munculnya korban.
 
Kordinator tim peneliti, Ibnu Rusydy, mengatakan, tim terdiri dari Pusat Riset Mitigasi Bencana dan Tsunami (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh, dan Himpunan Ahli Geologi Indonesia (HAGI) Aceh, meneliti kawasan-kawasan rawan longsor di wilayah barat-selatan, dan tengah.

“Survei juga dilakukan sebagai upaya pembaruan data geologi seputar kawasan barat-selatan dan tengah Provinsi Aceh. Selanjutnya, di masa yang akan datang dilakukan survei detil setiap lereng di Aceh melalui survei berkelanjutan,” kata Ibnu, di Banda Aceh, Jumat (22/6/2012).

Dari 682 titik berpotensi longsor, lebih 75 titik di antaranya terdapat di sepanjang jalan Banda Aceh-Calang, 55 titik di jalan Meulaboh-Sungai Mas (Aceh Barat), 29 titik di sepanjang jalan Aceh Selatan, 81 titik di Jalan Aceh Barat Daya-Terangon (Gayo Lues), dan lebih dari 442 titik di jalan Aceh Tengah-Kutacane.

Menurut Ibnu, jenis longsor yang mungkin terjadi di kawasan tersebut ialah rotasional, translasi, jatuhan batu, aliran debris (rombakan), dan rayapan (creep).

Lono Satrio, peneliti IAGI Aceh, mengatakan, tanah longsor rotasional dimungkinkan terjadi karena kondisi lapisan tanah yang tebal, kemiringan lereng yang curam, pembeban lereng dan curah hujan yang sangat tinggi di kawasan tersebut.

“Jenis longsor translasi terjadi akibat pemotongan lereng yang searah dengan lapisan batuan, di mana bidang perlapisan juga berperan sebagai bidang gelincir. Jatuhan batu sangat mungkin terjadi karena kecuraman lereng yang melebihi 80 derajat,” jelas Lono.

Aliran debris (rombakan) yang terdiri dari campuran batu, kayu, dan tanah juga dimungkinkan terjadi sepanjang lereng dan lembah yang dijalui oleh jalan. “Jenis longsoran rayapan terjadi pada lereng yang relatif landai dan adanya mineral monmorilonit yang menyebabkan berkurangnya gaya geser yang ada pada lereng,” sebutnya.

Analis TDMRC, Suhada Arief menambahkan, titik potensi longsor yang sudah terdata ini akan diplotkan dan menjadi data terbaru tentang potensi bencana tanah longsor pada Peta Risiko Bencana Aceh.

Tim merekomendasi untuk kawasan jalan barat-selatan dan tengah Aceh di antaranya, di kawasan lereng perlu dilakukan pemasangan semen (shorcrete) dan paku tanah (soil nail), untuk mencegah masuknya air hujan yang bisa menyebabkan pembebanan lereng, peningkatan tekanan air pori (pore water pressure) dan terbentuknya bidang gelincir.

Selain itu, perlu juga dilakukan pelandaian lereng atau re-profiling dibeberapa lereng yang sangat terjal dan dewatering untuk menurunkan muka air tanah.

Kawasan lereng batu yang memiliki tingkat rekahan (fracture) yang tinggi harus dipasangkan baut batu atau rock bolt, untuk memperkokoh lereng dan menyatukan batuan supaya tidak mudah jatuh. rock bolt ini juga bisa memperkuat gaya geser (shear strength) batu di sebuah lereng.

Selain pemasangan rock bolt, beberapa lereng batu tersebut harus dilakukan penurunan bongkahan-bongkahan batu (rock removal) yang diperkirakan akan jatuh di masa mendatang.

Apabila metode pemasangan rock bolt, soil nail, shorcrete, dan dewatering dirasa terlalu mahal, maka pelandaian lereng dan penurunan bongkahan-bongkahan batu yang diperkirakan akan jatuh adalah solusi terbaik.

(ton)

Ada 682 Titik Rawan Lonsor di Aceh Gallery

Ada 682 Titik Rawan Lonsor di Aceh Ada 682 Titik Rawan Lonsor di Aceh Ada 682 Titik Rawan Lonsor di Aceh Ada 682 Titik Rawan Lonsor di Aceh Ada 682 Titik Rawan Lonsor di Aceh Ada 682 Titik Rawan Lonsor di Aceh Ada 682 Titik Rawan Lonsor di Aceh

0 comments:

Post a Comment