Thursday, July 5, 2012

Peneliti LIPI: Tak Perlu Reaktif Sikapi Korupsi Alquran


JAKARTA - Masyarakat Indonesia dihebohkan dengan terbongkarnya kasus korupsi pengadaan Alquran di Kementerian Agama yang melibatkan politikus Senayan. Dalam kaitan ini, peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, Jaleswari Pramodhawardani menilai respons publik terhadap kasus ini terlalu reaktif.
 
"Terhadap korupsi Alquran kita tidak perlu reaktif, dalam artian kita jangan terlalu memberikan porsi tinggi bahwa Alquran ini adalah korupsi yang memiliki nilai paling tinggi," jelas Jaleswari usai Talkshow DPD RI berjudul Korupsi Alquran Penanda Moral yang Rusak Parah? di Jakarta, Jumat (6/7/2012).
 
Menurut dia, korupsi tetaplah korupsi, baik bentuknya korupsi proyek pengadaan Alquran, pengadaan Alutsista, alat-alat kesehatan dan dana untuk orang miskin.
 
"Saya justru melihat sebaliknya, karena korupsi Alquran di Kemenag itu sebetulnya justru menyadarkan kita perlu hati-hati melihat persoalan semacam ini. Di mana moralitas itu terlalu sederhana kalau hanya diserahkan kepada Kemenag," terangnya.
 
Menurutnya, kasus ini harus menjadi ajang refleksi dari masyarakat yang terlalu menumpukan persoalan moral ke Kemenag. "Korupsi proyek Alquran ini tetap harus diletakan sebagai korupsi yang sama dengan yang lainnya, bahwa itu memuat simbol-simbol Islam yang lainnya itu adalah foktor yang berbeda,” ujarnya.
 
Jaleswari menegaskan, korupsi tidak boleh dipilah-pilah dalam berbagai kategori karena bisa berbahaya. "Kalau ini kita membuat level yang berbeda kepada tindak pidana korupsi maka itu memiliki bahaya sendiri. Nanti kita melihat bahwa ternyata korupsi yang bisa mengambil dana rakyat untuk kepentingan rakyat miskin itu levelnya lebih rendah daripada Alquran," paparnya.
 
Sebenarnya, sambung dia, implikasi kepada kehidupan itu lebih besar dana untuk rakyat miskin yang dikorupsi ketimbang proyek pengadaan Alquran. Namun, ini bukan berarti mengecilkan Alquran.
 
"Kesalahan kita adalah kegairahan kita terhadap kehidupan keagamaan itu kemudian terputus dengan bagaimana relasi kita dengan manusia lainnya. Keadilan dalam konteks Alquran itu sebenarnya bagaimana kita menghargai pluralisme dan sebagainya," simpulnya.

(ful)

Peneliti LIPI: Tak Perlu Reaktif Sikapi Korupsi Alquran Gallery

Peneliti LIPI: Tak Perlu Reaktif Sikapi Korupsi Alquran Peneliti LIPI: Tak Perlu Reaktif Sikapi Korupsi Alquran Peneliti LIPI: Tak Perlu Reaktif Sikapi Korupsi Alquran Peneliti LIPI: Tak Perlu Reaktif Sikapi Korupsi Alquran Peneliti LIPI: Tak Perlu Reaktif Sikapi Korupsi Alquran Peneliti LIPI: Tak Perlu Reaktif Sikapi Korupsi Alquran Peneliti LIPI: Tak Perlu Reaktif Sikapi Korupsi Alquran

0 comments:

Post a Comment